Asalamualaikum

Asalamualaikum

Senin, 05 Mei 2014

JELASKAN MENGAPA LAPORAN KEUANGAN MEMILIKI POTENSI UNTUK MENYESATKAN SELAMA PERIODE PERUBAHAN HARGA



Nilai aktiva selama periode inflasi yang di catat sebesar biaya akuisisi awalnya jarang mencerminkan nilai terkininya (yang lebih tinggi). Nilai aset yang dikecilkan mengakibatkan dikecilkannya pengeluaran dan dibesarkannya laba. Ketidak akuratan pengukuran ini mendistorsi :
1.      proyeksi keuangan yang didasarkan pada data seri waktu historis
2.      anggaran yang menjadi dasar pengukuran kinerja dan
3.      data kinerja yang tidak dapat mengisolasi pengaruh inflasi yang tidak dapat dikendalikan.

 Laba yang dinilai lebih pada gilirannya akan menyebabkan :
1.    Kenaikan dalam proporsi pajak
2.    Permintaan deviden lebih banyak dari pemegang saham
3.    Permintaan gaji dan upah yang lebih tinggi dari pada pekerja
4.    Tindakan yang merugikan dari Negara tuan rumah (seperti pengenaan pajak keuntungan yang sangat besar)
            Jika harus mendistribusikan semua laba yang dibesarkan (Dalam bentuk pajak, deviden, gaji dan semacamnnya yang lebih besar) suatu perusahaan mungkin tidak akan memiliki cukup sumberdaya untuk mengganti aset tertentu yang mengalami kenaikan harga, seperti persediaan, pabrik dan peralatan.
            Kegagalan untuk menyesuaikan data keuangan perusahaan terhadap perubahan dalam daya beli unit moneter juga menimbulkan kesulitan bagi pembaca laporan keuangan untuk menginterpretasikan dan membandingkan kinerja operasi perusahaan yang dilaporkan. Dalam periode inflasi, pendapatan umumnya dinyatakan dalam mata uang dengan daya beli umum yang lebih rendah ( yaitu daya beli perode ini ), yang kemudian diterapkan terhadap beban terkait. Biaya disajikan dalam mata uang dengan daya beli umum lebih tinggi karena biasanya mencerminkan pemakaian sumberdaya yang diperoleh dimasa lampau (misalnya penyusutan pabrik yang dibeli 10 tahun silam) ketika daya beli unit moneter lebih tinggi. Mengurangi biaya berdasarkan daya beli historis dari pendapatan berdasarkan daya beli kini menyebabkan laba tidak diukur secara akurat.
            Prosedur akuntansi yang konvensional juga mengabaikan keuntungan dan kerugian daya beli yang timbul dari kepemilikan kas ( ekuivalennya ) selama periode inflasi. Jika kita menahan kas selama setahun dengan tingkat inflasi 100%, maka diakhir tahun kita akan memerlukan dua kali lipat kas untuk menyamai daya beli saldo kas diawal tahun. Hal ini selanjutnya mempersulit pembaca laporan untuk membandingkan kinerja bisnis.
Oleh karena itu, mengakui pengaruh inflasi secara eksplisit dilakukan karena :
  1. Pengaruh perubahan harga sebagian bergantung pada transaksi dan keadaan yang dihadapi suatu perusahaan.
  2. Mengelola masalah yang timbulkan oleh perubahan harga tergantung pada pemahaman yang akurat atas masalah tersebut.
  3. Laporan dari para menajer mengenai permasalahan yang disebabkan oleh perubahan hatga lebih mudah dipercaya apabila kalangan usaha menerbitkan iformasi keuangan yang membahas masalah-masalah tersebut.
            Pengaruh distorsi inflasi masa lalu dapat juga bertahan selama bertahun-tahun, mengingat umur panjang kebanyakan harta. Disamping itu, sebagaimana disebutkan sebelumnya, perubahan harga khusus bisa menjadi signifikan bahkan ketika tingkat harga umum tidak banyak berubah.
SUMBER:
http://ninisug.blogspot.com/2011/05/nama-niswatun-amaro-npm-20207788-kelas.html
http://diondion.blogspot.com/2013/03/10/laporan-keuangan-memiliki-potensi-menyesatkan-perubahan-harga/

JELASKAN KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN TRANSLASI MATA UANG ASING


Keuntungan atau kerugian translasi harus diperlakukan dari sudut pandang mata uang local sebagai penyesuaian terhadap ekuitas pemilik. Jika mata uang pelaporan induk perusahaan merupakan unit pengukuran laporan keuangan yang ditranslasikan (sudut pandang induk perusahaan), sangat disarankan untuk mengakui keuntungan atau kerugian translasi laba sesegera mungkin.

Keuntungan dan Kerugian Translasi
A.      Penangguhan
Dikeluarkannya penyesuaian translasi dari laba periode sekarang umumnya dianjurkan karena penyesuaian ini hanyalah hasil dari proses penyajian ulang. Perubahan nilai ekuivalen mata uang domestik dari aktiva bersih anak perusahaan luar negeri tidak direalisasikan dan tidak berpengaruh terhadap arus kas mata uang local yang dihasilkan dari entitas asing. Oleh karena itu, akan cenderung menyesatkan jika memasukan penyesuaian seperti itu ke dalam laba sekarang. Berdasarkan keadaan ini, penyesuaian translasi harus diakumulasi secara terpisah sebagai bagian ekuitas konsolidasi.  
    
B.       Penangguhan dan Amortisasi
Beberapa pihak mendukung penangguhan keuntungan atau kerugian translasi dan melakukan amortisasi penyesuaian ini selama masa manfaat pos-pos neraca terkait.

C.       Penangguhan Parsia
Pilihan ketiga dalam akuntansi untuk keuntungan atau kerugian translasi adalah dengan mengakui kerugian sesegera mungkin setelah terjadi, tetapi mengakui keuntungan hanya setelah direalisasikan. Meskipun terdengar konservatif, penangguhan keuntungan translasi semata-mata hanya karena merupakan keuntungan, tetap mengabaikan terjadinya perubahan kurs.

D.      Tidak Ditangguhkan
Pilihan terakhir adalah untuk mengakui keuntungan atau kerugian translasi dalam laporan laba rugi sesegera mungkin, pilihan ini memandang penangguhan dalam bentuk apa pun bersifat palsu dan cenderung menyesatkan.
SUMBER :

SEBUTKAN DAN JELASKAN DUA METODE TRANSLASI MATA UANG ASING

Definisi Translasi Mata Uang Asing
Translasi mata uang asing adalah Proses penyajian ulang informasi keuangan dari satu mata uang ke mata uang lainnya.

Translasi Mata Uang Asing diklasifikasikan ke dalam dua metode yaitu :

1.    Single Rate Method
Metode ini mengaplikasikan kurs tunggal, yaitu kurs yang berlaku atau kurs penutupan, untuk semua aktiva  dan kewajiban valuta asing. Pendapatan dan beban valuta asing umumnya ditranslasikaan pada kurs yang berlaku pada saat item-item ini diakui. Meskipun begitu, untuk tujuan kelayakan, item-item tertimbang dari kurs-kurs yang berlaku untuk periode yang bersangkutan. Laporan keuangan operasi luar negeri, yang dianggap oleh perusahaan induk sebagai entitas otonom, memiliki domisisli pelaporan mereka sediri. Dimana perusahaan afiliasi asing tersebut mentransaksikan urusan bisninya yaitu dengan cara yang paling baik adalah penggunaan kurs berlaku.
Metode translasi ini memperahankan hasil keuangan dan hubungan asli (misalnya rasio-rasio keuangan) dalam laporan konsolidasi dari entitas-entitas individual yang dikonsolidasi. Dalam metode kurs berlaku. hasil-hasil konsplidasi akan mencerminkan perspektif-perspektif valuta dari masing-masing negara tempat dimana perusahaan-perusahaan anak berada.

2.    Multiple Rate Method
Metode-metode kurs berganda mengkombinasikan nilai tukar berjalan dan historis dalam proses translasi. Tiga metode semacam itu akan dibahas berikut ini.

A. Metode berlaku-historis.
Aktiva lancar dan kewajiban lancar sebuah perusahaan anak di luar negeri ditranslasikan kedalam valuta pelaporan perusahaan induknya dengan menggunakan kurs berlaku. Aktiva dan kewajiban non-lancar ditranslasikan dengan kurs historis. Metodologi ini, sayangnya, memiliki sejumlah kelemahan. Misalnya, metode ini kurang memiliki justifikasi konseptual. Definisi-definisi yang ada mengenai aktiva dan kewajiban lancar dan non-lancar tidak menjelaskan mengapa cara klasifikasi seperti itu menentukan kurs mana yang akan digunakan dalam proses translasi. Lebih jauh, kurs yang berfluktuasi mungkin menghasilkan translasi yang mendistorsi hasil-hasil operas! antara periode-periode akuntansi.

B. Metode Moneter-Nonmoneter.
Seperti halnya metode berlaku-historis, metode moneter-nonmoneter memakai pola klasifikasi neraca untuk menentukan kurs.tianslasi yang tepat.
kewajiban moneter mewakili hak untuk menerima atau keharusan untuk membayar sejumlah valuta asing tertentu di masa depan (kas, piutang, dan hutang, termasuk hutang jangka panjang) ditranslasikan memakai kurs berlaku. Item-item nonmoneter aktiva tetap, investasi jangka panjang, dan persediaan ditranslasikan memakai kurs historis. Item-item laporan laba-rugi ditranslasikan dengan menggunakan prosedur yang sama dengan prosedur yang telah dijelaskan bagi kerangka metode berlaku-historis.
Karena item-item moneter diselesaikan dalam kas, pemakaian kurs berlaku untuk mentranslasikan item-item valuta asing menghasilkan valuta domestik ekivalen yang mencerminkan nilai realisasi atau nilai penyelesaiannya.

C. Metode Temporal.
Menurut pendekatan temporal, translasi valuta merupakan suatu proses konversi pengukuran (yaitu, penyajian ulang nilai tertentu). Karena itu, metode ini tidak dapat digunakan untuk mengubah atribut suatu item yang sedang diukur; metode ini hanya dapat mengubah unit pengukuran. Translasi saldo valuta asing, misalnya, hanya mengubah (restate) denominasi persediaan, tidak penilaian aktualnya. Dalam GAAP AS, aktiva kas diukur berdasarkan jumlah yang dimiliki pada tanggal neraca. Piutang dan hutang dinyatakan dalam jumlah yang diharapkan akan diterima ata'ii dibayar pada saat jatuh tempo. Kewajiban dan aktiva lain diukur pada harga yang berlaku ketika item-item tersebut diperoleh atau terjadi (harga historis). Meskipun begitu, beberapa diantaranya diukur berdasarkan harga yang berlaku pada tanggal laporan keuangan (harga berjalan), seperti persediaan dibawah aturan biaya atau pasar. Pendek kata, ada dimensi waktu yang berkaitan dengan nilai nilai uang ini item-item moneter seperti kas, piutang, dan hutang ditranslasikan dengan kurs berlaku. Item-item non moneter ditranslasikan dengan kurs yang sesuai dengan basis pengukuran aslinya. Secara khusus, aset yang tercatat dalam laporan keuangan valuta asing berbasis biaya historis ditranslasikan memakai kurs historis. Mengapa? Karena biaya historis dalam valuta asing yang ditranslasikan memakai kurs historis menghasilkan biaya historis dalam valuta domestik. Sama halnya, item-item non moneter yang tercatat di luar negeri berbasis nilai berjalan ditranslasikan memakai kurs berlaku karena nilai berjalan dalam valuta asing yang ditranslasikan memakai kurs berlaku menghasilkan nilai berjalan dalam valuta domestik. Item-item pendapatan dan beban ditranslasikan memakai kurs yang berlaku pada saat transaksi yang mendasarinya terjadi, walaupun pemakaian kurs rata-rata disarankan jika transaksi-transaksi pendapatan atau beban terlalu banyak. Dalam praktik, variasi-variasi dari metode-metode translasi yang telah dibahas tadi banyak diperkenalkan untuk mengakomodasi situasi operasi dan filosofi manajemen tertentu. Sebagai contoh. beberapa perusahan internasional yang taat pada metode kurs berlaku tetapi mentranslasikan aktiva tetapnya memakai kurs historis. Perusahaan-perusahaan lain yang lazim memakai metode berlaku-historis tetapi mentranslasikan persediaan memakai kurs yang berlaku pada tanggal perolehan. Perusahaan-perusahaan yang menyukai metode moneter-nonmoneter ternyata mentranslasikan hutang jangka panjang memakai kurs historis bukannya kurs berlaku sementara perusahaan-perusahaan yang menggunakan metode temporal seringkali mentranslasikan persediaan memakai kurs berlaku.
SUMBER:





Sabtu, 05 April 2014

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN SISTEM AKUNTANSI DARI NEGARA PERANCIS, JERMAN, REPUBLIK CEKO, BELANDA DAN INGGRIS



Negara di kawasan Eropa yang memiliki sistem pengawasan dan dalam pelaporan keuangan yang baik yaitu seperti negara Jerman, Belanda, Prancis, Republik Ceko, dan inggris. Tetapi disetiap Negara pasti memiliki peraturan atau sistemnya masing-masing. Untuk memahami sistem akuntansi di setiap masiing-masing Negara mari kita lihat perbedaan dan persamaannya.
PERANCIS
Dasar utama untuk regulasi akuntansi di Prancis adalah Undangundang Akuntansi 1983 & DekritAkuntansi 1983, yang menjadikan Plan Comptable General suatu kewajiban bagi semua perusahaan. Setiap perusahaan harus membuat sebuah panduan akuntansi jika dianggap perlu untuk memahami dan mengatur proses akuntansi.
Regulator dan Pelaksanaan Akuntansi
Ada lima perusahaan besar yang terlibat dalam penyusunan standar di Prancis :
1.      Counseil National de la Comptabilite, atau CNC (Badan Akuntansi Nasional)
2.      Comite de la Reglementation Comptable, atau CRC (Komite Regulasi Akuntansi)
3.      Autorite des Marches Financiers, atau AMF (Otoritas Pasar Keuangan)
4.      Ordre des Experts-Comptable, atau OEC (Institute Akuntan Publik)
5.      Compagnie National des Commissaires aux Comptes, atau CNCC (Institute Nasional Undang-undang Auditor.
Laporan Keuangan
Perusahaan di Prancis harus melaporkan hal-hal berikut :
  1. Neraca
  2. Laporan laba rugi
  3. Catatan atas laporan keuangan
  4. Laporan direktur
  5. Laporan auditor
JERMAN
Regulator 
1. DRSC (German Accounting Standards Committee)
2. GASC (mengawasi DRSC)
3. FREP (Dewan Sektor Swasta)
4. Wirtschaftspruferkammer (Chamber of Accountants)
Regulasi
1.      German Commercial Code (HGB) dan keputusan hakim. Akuntansi Jerman dirancang untk menghitung jumlah pendapatan yang tepat yang bisa menjaga kreditor setelah adanya pembagian kepada pemilik.
2.      Laporan keuangan : Neraca, Laporan laba rugi, Catatan, Laporan Manajemen, Laporan Auditor. Perusahaan kecil dibebaskan dari persyaratan audit dan diperbolehkan untuk menyusun sebuah neraca singkat.
3.      Laporan khas Jerman adalah laporan pribadi dari auditor kepada dewan direktur dan dewan pengawas perusahaan. 
Undangundang tahun 1998 tentang kendali dan transparansi memperkanalkan persyaratan bagi Menteri Kehakiman untuk mengakui dewan susunan standar nasional untuk memberikan tujuan-tujuan berikut:
1.      Mengembangkan rekomendasi untuk penerapan standar akuntansi dalam laporan keuangn gabungan.
2.      Menganjurkan Menteri Kehakiman mengenai standar akuntansi yang baru.
3.      Mewakili Jerman dalam organisasi akuntansi internasional seperti IASB.
Pelaporan Keuangan
Undang- undang menetapkan isi dan format laporan keuangan, yang mencakup hal-hal berikut:
1.    Neraca
2.    Laporan laba rugi
3.    Catatan
4.    Laporan manajemen
5.    Laporan auditor
Pengukuran Akuntansi
1.      Penggabungan usaha : dengan metode pembelian, meskipun metode pooling diperbolehkan. Goodwill diperbolehkan dengan nilai amortisasi 4 – 20 tahun.
2.      Investasi dicatat dengan metode ekuitas.
3.      Metode penilaian persediaan dengan LIFO, FIFO, dan Average.
4.      Aset dinilai sebesar harga historisnya.

REPUBLIK CEKO
            Republik ceko (CR) terletak di eropa tengah dan berbatasan dengan jerman disebelah barat dan barat laut, Austria diselatan, republic Slovakia ditimur dan polandia di utara.
Regulator
1.      Parlemen
2.      Menteri Keuangan
3.      Chamber of Auditors
 Regulasi
1.    Commercial Code
2.    Accountancy Act
3.    Dekrit Menteri Keuangan
Laporan Keuangan
1.      Neraca, akun keuntungan dan kerugian (laporan laba rugi) dan catatan, Perusahaan kecil tidak diwajibkan melakukan audit memiliki persyaratan pengungkapan yang singkat. Perusahaan Ceko yang terdaftar harus menggunakan IFRS dan memberikan laporan laba rugi per 3 bulan.
2.      Perusahaan tidak terdaftar bisa memilih IFRS atau standar akuntansi Ceko dalam laporan keuangan gabungan mereka tapi harus menggunakan standar Ceko dalam laporan perusahaan pribadi.
BELANDA
            Belanda merupakan sebuah Negara hukum, namun akuntansinya diorientasikan kearah keawajaran penyajian. Laporan keuangan dan akuntansi pajak merupakan dua aktivitas yang terpisah. Lebih lanjut lagi, orientasi kewajaran dikembangkan tanpa adanya pengaruh kuat dari bursa saham.Akuntansi Belanda dianggap sebagai sebuah cabang ekonomi bisnis. Akibatnya, banyak pemikirn ekonomi yang dicurahkan untuk topiktopik akuntansi dan khususnya
pada pengukuran akuntansi. 
Regulator
1.      DASB (Dutch Accounting Standards Board)
2.      AMF (Authority for the Financial Markets)
3.      Enterprise ChamberNivRA (Netherlands Institute of Registeraccountants)
Regulasi
1.      Act on Annual Financial Statements 1970.
Laporan Keuangan
1.    Neraca, laporan laba rugi, catatan, laporan direktur dan informasi lain yang sudah ditentukan, laporan arus kas dianjurkan.
2.    Perusahaan kecil dibebaskan dari persyaratan audit dan dapat menyusun laba rugi singkat dan neraca. Perusahaan menengah harus diaudit tapi boleh mengeluarkan laporan laba rugi singkat.
3.    Laporan keuangan dan akuntansi pajak merupakan dua aktivitas yang berbeda. Perusahaan terdaftar harus menggunakan IFRS, tapi semua perusahaan diperbolehkan menggunakan IFRS alih-alih pedoman Belanda.
INGGRIS
Regulator
1.    CCAB (Consultative Committee of Accountancy Bodies)
2.    FRC (Financial Reporting Council
3.    AIDB (Accountancy Investigation dan Discipline Board)
4.    POB (Professional Oversight Board)

Regulasi
1.    Undang-Undang Perusahaan 1981 dan profesi akuntansi.
Laporan Keuangan
1.    Laporan direktur, akun laba dan rugi serta neraca, laporan arus kas, laporan keseluruhan laba dan rugi, laporan kebijakan akuntansi, catatan yang direferensikan dalam laporan keuangan, dan laporan auditor.
2.    Perusahaan kecil dan menengah dibebaskan dari banyaknya kewajiban laporan keuangan termasuk laporan gabungan, dan diizinkan untuk menyusun akun singkat dengan informasi minimun yang telah ditentukan sebelumnya.
Untuk mempermudah anda mengetahui perbedaan dan persamaan sistem akuntansi dari kelima Negara di atas, perhatikan Tabel berikut ini:
Image
 SUMBER:
http://jaqqaaria.blogspot.com/2011/05/tugas-8-akuntansi-internasional.html.bahrulwasim.files.wordpress.com/2011/06/bab-i-s-d-bab-vi.pptx
         http://diantrioktaviany.blogspot.com/2011/03/persamaan-dan-perbedaan-sistem.html